Pathway Asma Bronkhial

Gambaran proses Penyakit / Pathofisiologi Pasien dengan Asma bronchial hingga muncul masalah keperawatan atau diagnosa Keperawatan dalam bentuk Pathway atau pohon Masalah dapat anda lihat pada dokumen di bawah ini.

Silahkan Klik tanda (+) untuk memperbesar dan tanda (-) untuk mengecilkan. Semoga membantu





Tag: Patoflow / Pathways asma bronkial, Pathway asma bronkhial, Patway asma bronkial,Pohon Masalah Keperawatan asma bronkhial, Pathways asthma bronchial

Pathway Efusi Pleura

Gambaran proses Penyakit / Pathofisiologi Pasien dengan Efusi Pleura hingga muncul masalah keperawatan atau diagnosa Keperawatan dalam bentuk Pathway atau pohon Masalah dapat anda lihat pada dokumen di bawah ini.

Silahkan Klik tanda (+) untuk memperbesar dan tanda (-) untuk mengecilkan. Semoga membantu





Tag: Patoflow / Pathways Efusi Pleura, Pathway effusi Pleura, Patway efusi Pleura,Pohon Masalah Keperawatan efusi Pleura, Pathways Pleural effusion

Pathway Trauma Kepala

Gambaran proses Penyakit / Pathofisiologi Pasien dengan Trauma Kepala / Cedera Kepala hingga muncul masalah keperawatan atau diagnosa Keperawatan dalam bentuk Pathway atau pohon Masalah dapat anda lihat pada dokumen di bawah ini. .

Silahkan Klik tanda (+) untuk memperbesar dan tanda (-) untuk mengecilkan. Semoga membantu




Kalau anda ingin mendownloadnya di link di bawah ini :
Download Pathway Keperawatan Trauma Kepala 

Tag: Patoflow / Pathways Cidera kepala, Pathway Cedera Kepala, Pathway CKB, CKS, CKR, Pathway Trauma Kepala,

Pathway Gagal Ginjal Kronis (GGK)

Gambaran proses Penyakit/Pathofisiologi Pasien dengan Gagal Ginjal Kronis (GGK)/Chronic Kidney Disease (CKD) hingga muncul masalah keperawatan atau diagnosa Keperawatan dalam bentuk Pathway dapat anda lihat pada dokumen di bawah ini. Karena kesulitan menampilkan di blog dalam bentuk tulisan langsung berikut di tampilkan dalam bentuk embedded document dari google doc.

Silahkan Klik tanda (+) untuk memperbesar dan tanda (-) untuk mengecilkan. Semoga membantu


Kalau anda ingin mendownloadnya di link di bawah ini :
Download Pathway Gagal Ginjal Kronis (GGK)

Tag: Pathways GGK,Pathways CKD, Proses Keperawatan GGK, Pohon Masalah GGK,Pathway GGK, Pathways Renal failure

Tugas Belajar Program Pendidikan D IV Mitra Spesialis Kemenkes 2012

  Logo Kemenkes RI 
Kementrian Kesehatan Melalui Badan Pengembangan Dan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPDMSK) Mengeluarkan Surat Edaran Nomor : M.01.03/I/V.3/013155.1/2012 Tanggal : 15 Mei 2012 Salah satu programnya Adalah Tugas Belajar (Tubel) Reguler dengan sumber dana dari DIPA Pustanserdik SDM.
Untuk Pendidikan Diploma IV Mitra Spesialis yang khususkan bagi tenaga kesehatan di RS Pusat dan Daerah.

Selain Persyaratan umum yang ada di Surat Edaran juga ada syarat Khusus untuk Program D IV Mitra Spesialis
Persyaratan Program Pendidikan Diploma IV Mitra Spesialis
a. Peminatan yang akan diambil disesuaikan dengan keberadaan dokter spesialis di Rumah Sakit, baik sudah selesai pendidikan maupun yang sedang mengikuti pendidikan
b. Latar belakang pendidikan, memiliki ijazah D-lll Kesehatan :
1. Lulusan D-lll Keperawatan untuk peminatan:
a. Keperawatan Medikal Bedah
b. Keperawatan Gawat Darurat
c. Keperawatan Anestesi & Reanimasi
d. Keperawatan Medikal Bedah Kardiovaskuler
e. Keperawatan Jiwa 
2. Lulusan D-lll Analis Kesehatan, untuk peminatan Analis Kesehatan
3. Lulusan D-lll Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (Radiologi), untuk peminatan  Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
4. Lulusan D-lll Teknik Elektromedik, untuk peminatan Teknik Elektromedik
5. Lulusan D-lll Fisioterapi, untuk peminatan Fisioterapi 
c. Bagi peserta wanita bersedia tidak hamil selama mengikuti pendidikan
d. Setelah selesai pendidikan, peserta wajib kembali bekerja di rumah sakit

Untuk Pendidikan Diploma IV Mitra Spesialis, penyelenggaraan pendidikan tugas belajar di Politeknik Kementerian Kesehatan yang ditetapkan, sebagai berikut:

No
PEMINATAN
POLTEKKES  KEMENKES

1
Keperawatan Medikal Bedah
Kalimantan Timur
Palangkaraya
Pontianak
Denpasar

2
Keperawatan Gawat Darurat

Mataram
Manado
3
Keperawatan Anestesi & Reanimasi
Yogyakarta
4
Keperawatan Kardiovaskuler
Semarang
5
Teknik Radiodiagnostik & Radioterapi (Radiologi)
Jakarta
6
Keperawatan Jiwa
Malang
7
Analis Kesehatan
Makassar
8
Teknik Elektromedik
Surabaya
9
Fisioterapi
Surakarta

Lama Studi : 
1) Program Pendidikan D-IV dari D-lll : 1 tahun
2) Khusus untuk program pendidikan D-IV Mitra Spesialis, peminatan keperawatan Anestesi & Reanimasi, peminatan Teknik Elektromedik dan peminatan Fisioterapi, lama masa studi adalah 3 semester Jadwal

Pelaksanaan


No
KEGIATAN
PELAKSANA BULAN
1

Informasi Edaran ke Unit Utama, UPT
Vertikal Kemenkes dan Dinas Kesehatan
Provinsi, Kab/Kota.
Mei 2012

2
Pengajuan usulan hasil seleksi administrasi ke
Pustanserdik SDMK Unit Utama Kementerian
Kesehatan dan Dinkes Provinsi
Minggu III Juni 2012

3
Seleksi Berkas tingkat Pusat
Minggu l-ll Juli 2012

4
Seleksi Akademik *)
4 Juli – Agustus 2012

5
Pengumuman hasil seleksi akademik *)
5 Juli – Agustus 2012

6
Pra Penetapan SK Tubel
Agustus 2012

7
Penerbitan SK Tugas Belajar Ka.Badan PPSDM Kes
Minggu IV Agustus 2012

8
Kuliah Institusi Pendidikan
8 September 2012

  *) Kepastian pelaksanaan tergantung institusi pendidikan. 

Untuk Selengkapnya Surat edaran dan lampirannya  dapat di download di bawah ini :

Informasi Penerimaan Calon Peserta Tugas Belajar Dalam Negeri Bagi SDM Kesehatan Tahun 2012


Tags :Tugas Belajar Kemenkes 2012, Tubel Depkes,  Edaran Tubel Kemenkes, Program Tubel D4 Kemenkes, Beasiswa Kemenkes

Hubungan Hipertensi dengan Kebutuhan Dasar Manusia


Kebutuhan dasar manusia merupakan elemen yang penting bagi manusia untuk mempertahankan hidup dan kesehatannya. Kebutuhan tersebut secara terus menerus berusaha dipenuhi oleh manusia. Ada dorongan-dorongan kebutuhan dalam tubuhnya untuk tetap bertahan hidup. Dorongan tersebut yaitu berupa kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya.
Kondisi fisik manusia secara integral berkaitan dengan kondisi psikologis dan rohaninya. Manusia adalah satu kesatuan. Apa yang terjadi dengan kondisi fisik manusia akan mempengaruhi pula kondisi psikologis dan rohaninya. Penyakit fisik yang dialami seseorang tidak hanya menyerang manusia secara fisik saja tetapi juga dapat membawa masalah-masalah bagi kondisi psikologisnya dan rohaninya, demikian pula sebaliknya.
Pemenuhan kebutuhan dasar manusia akan terhambat jika seseorang menderita suatu penyakit atau injuri misalnya hipertensi. Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif dan kronik dan memberikan dampak secara holistik baik fisik, psikologis, sosial, ekonomi dan spiritual sehingga akan menyebabkan dalam memenuhi kebutuhan hidup dasarnya mengalami gangguan. Penderita hipertensi umumnya memiliki keluhan pusing, mudah marah, sukar tidur, sesak nafas, mudah lelah dan keluhan lainnya. Adanya kelemahan atau keterbatasan kemampuan dan keluhan lain akibat hipertensi tersebut, penderita akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri. Adapun hubungan antara kebutuhan fisiologis, rasa aman dan dicintai dengan hipertensi yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis pada pasien hipertensi
Kebutuhan fisiologis terdiri dari oksigen, cairan, nutrisi, temperatur, eliminasi, tempat berlindung (rumah), istirahat dan seks (Potter & Perry, 1991). Penyakit hipertensi menyebabkan kebutuhan fisiologis dari penderita akan terganggu. Penderita biasanya akan mengalami dyspnea (sesak nafas), gangguan oksigenasi, perubahan nutrisi, sukar tidur, istirahat tidak nyaman, pusing, mudah lelah yang selanjutnya menyebabkan kebutuhan akan seksualitas terganggu.
2. Kebutuhan rasa aman pada pasien hipertensi
Penyakit hipertensi kronik dan keluhan yang dialami juga dapat memberikan efek pada psikologis penderita yaitu perasaan tidak aman dan nyaman serta perasaan tidak dicintai. Rasa tidak aman misalnya rasa takut mati atau takut tidak bisa sembuh. Pusing, nyeri kepala, pusing, mata berkunang-kunang, sesak nafas dan mudah lelah menyebabkan rasa takut jatuh dan mengalami kecelakaan bila beraktifitas. Hal tersebut juga menyebabkan penderita hipertensi tidak dapat menjalankan rutinitas pekerjaan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya secara optimal. Adanya efek samping obat dan aturan program pengobatan juga menyebabkan penderita hipertensi mengalami kecemasan, rasa takut dan tidak nyaman.
3. Kebutuhan dicintai pada pasien hipertensi
Program pengobatan yang lama dan pengubahan gaya hidup memungkinkan rasa jenuh dalam melaksanakannya sehingga penderita merasa tidak dicintai dan bisa marah tanpa alasan yang jelas. Selain itu juga karena kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman tidak terpenuhi maka penderita tidak akan memiliki waktu dan tenaga untuk mencari cinta dan mencurahkan cinta dengan orang lain (Potter & Perry, 1991). Kesempatan berkurang untuk memenuhi kebutuhan akan afiliasi (masuk menjadi salah satu anggota kelompok), berinteraksi dengan sahabat, menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain, interaksi dengan rekan kerja, kebebasan melakukan aktivitas sosial serta memberi dan menerima kasih sayang atau dihargai oleh orang lain dalam kehidupan sosial masyarakat (Syukri, 2003).

Pathway Hernia

Proses keperawatan pada Pasien Hernia (Hernia umbilikalis konginetal; Hernia para umbilikalis; Hiatus Hernia; Hernia Insisional; Hernia Inguinalis) dalam bentuk Pathway dapat anda lihat di bawah ini. Untuk Asuhan keperawatan Hernia silahkan klik link Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hernia

 Atau bisa anda download format Ms. Word pada link di bawah ini :


Tag: Pathway Keperawatan Hernia, Pathway hernia,Pathways Hernia

Pathway Hipertensi

Proses keperawatan pada Pasien hipertensi dalam bentuk Pathway dapat anda lihat di bawah ini. untuk Asuhan keperawatan Hipertensi silahkan menuju link Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hipertensi

 Atau bisa anda download format Ms. Word pada link di bawah ini :


Tag: Pathway Keperawatan Hipertensi, Pathway Hipertensi,Pathways Hipertensi

Cardiogenic Shock

Cardiogenic shock is decreased cardiac output state and occurrence of tissue hypoxia as a result of inadequate intravascular volume contractility disturbances caused by hemodynamic criteria continuous hypotension with systolic blood pressure less than 90 mm Hg, cardiac index decreased less than 2.2 liters per minute and increased pulmonary wedge pressure ( PCWP) over 15 mmHg, and most of the events due to acute myocardial infarction (Hollenberg, 2004)

Etiology
1. Impaired myocardial function: an extensive acute myocardial infarction (> 40%), right ventricular infarction, arteriosklerotik heart disease, cardiomyopathy.
2. Mechanical: Mitral regurgitation, aortic regurgitation, septal rupture interventrikuler, anurisma massif ventricle, atrium stenosis, mitral stenosis, left atrial thrombus, pericarditis or pleural pericardium.
3. Arrhythmia: bradiaritmia, takhiaritmia

Sign And Symtomps
1. Changes in mental status (decreased perfusion cerebri): confusion, disorientation, anxiety and restlessness.
2. Pale, cool, moist (vasoconstriction and hypoperfusion)
3. Tachycardi / bradicardy.
4. Jugular venous distension.
5. Oliguria, urine production of less than 20 ml / hour.
6. Takhypnea, dyspnea
7. Fatique
8. Pulmonary edema

Pathophysiology
Decreased left ventricular function resulting in decreased ability of the left ventricle to pump blood, causing a decrease in stroke volume and cardiac output and blood pressure. Decrease in cardiac output resulting in decreased perfusion to the peripheral terjdinya and reduced supply of O2 to the tissues resulting in vital organ dysfunction such as brain, kidney and heart problems that occur in mental status, decreased urine production, and other cardiac arrhythmias.
The decrease in stroke volume will increase the end left ventricular diastolic pressure (LVEDP) and result in increased pressure in the left atrium and pulmonary veins. These conditions increase the hydrostatic pressure in the pulmonary veins, causing the occurrence of pulmonary edema which would interfere with gas exchange and tissue hypoxia.

Asuhan Keperawatan Menarik Diri

Isolasi sosial adalah rasa terisolasi, tersekat, terkunci, terpencil dari masyarakat, rasa ditolak, tidak disukai oleh orang lain, rasa tidak enak bila berkumpul dengan orang lain, lebih suka menyendiri. Sedangkan menarik diri adalah menunjukkan tingkah laku dan sikap dari “isolasi” sebagai pembelaan psikologik (WF Maramis, 2003).
Penarikan diri (withdrawal) adalah suatu tindakan pelepasan diri baik dari perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (isolasi diri). Penarikan diri sebagai pola tingkah laku (Direktorat Kesehatan jiwa, 1983).
Caplan dkk (2001) mengemukakan individu yang menarik diri dari lingkungan umumnya mempunyai gangguan konsep diri dan proses pikir.

Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain ( Rawlins,2003 ).


Pada mulanya pasien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain. Biasanya pasien berasal dari lingkungan yang penuh dengan permasalahan, ketegangan, kecemasan, dimana tidak mungkin mengembangkan kehangatan emosional dalam hubungan yang positif dengan orang lain terutama dengan tokoh ibu. Dalam situasi lingkungan yang demikian, seorang anak tidak mungkin mempunyai penghayatan diri (self image) rasa percaya diri, menentukan identitas diri, mengembangkan kepercayaan dalam berhubungan dengan orang lain dan mempelajari cara berhubungan dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman (Direktorat Kesehatan Jiwa, 1983).
Tanda – tanda menarik diri dilihat dari beberapa aspek :
a. Aspek fisik :

  • Makan dan minum kurang
  • Tidur kurang atau terganggu
  • Penampilan diri kurang
  • Keberanian kurang

b. Aspek emosi :
  • Bicara tidak jelas, merengek, menangis seperti anak kecil
  • Merasa malu, bersalah
  • Mudah panik dan tiba-tiba marah
c. Aspek sosial
  • Duduk menyendiri
  • Selalu tunduk
  • Tampak melamun
  • Tidak peduli lingkungan
  • Menghindar dari orang lain
  • Tergantung dari orang lain
d. Aspek intelektual
  • Putus asa
  • Merasa sendiri, tidak ada sokongan
  • Kurang percaya diri


Diagnosa Keperawatan :
  1. Resiko tinggi kekerasan berhubungan dengan halusinasi pendengaran
  2. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan kurangnya stimulus lingkungan.
  3. Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan gangguan konsep diri..
  4. Harga diri rendah kronis berhubungan dengan koping individu tidak efektif.
  5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan persepsi atau kognitif.

Ikterus Neonatorum ( Hyperbilirubinemia Neonatorum)

Ilustrasi (Google)
PENGERTIAN:
Ikterus Neonatorum Adalah warna kuning yang tampak pada kulit dan mukosa oleh karena adanya bilirubin pada jaringan tersebut akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Pada hyperbilirubinemia neonatorum yang diperhitungkan terutama adalah bilirubin indirek (I).
1. Harga normal : Bilirubin dalam darah ----- :
  • Direk ( D ) < 1,0 mg % 
  • Indirek ( I ) < 2 mg % 
2. Harga patologis : Bilirubin dalam darah -- :
  • I : bayi aterm > 12 mg %
  • I : bayi prematur > 10 mg %
  • Atau peningkatan kadar 0,2 mg/jam atau 4 mg/hari.

PATOFISIOLOGI :
  • Pemecahan eritrosit yang berlebihan.
  • Gangguan clearance ( transport ) metabolisme, gangguan konjugasi
  • Gangguan ekskresi bersama air.

GEJALA KLINIK :
Ikterus Fisiologis :
  • Tampak pada hari ke III – IV
  • Bayi tampak sehat ( normal )
  • Kadar < 12 mg % .
  •  Menghilang paling lambat 10 – 14 hari
  •  Tidak ada faktor resiko
    • Sebab : proses fisiologis ( berlangsung dalam kondisi fisiologis ).

    Ikterus Patologis :

    • Timbul pada umur < 36 jam
    • Cepat berkembang
    • Bisa disertai anemia
    • Menghilang lebih lama > 2 minggu
    • Ada faktor resiko
    • Dasar : proses patologis.

    ETIOLOGI / faktor resiko :
    A. Haemolisis/ Produksi meningkat :
    • Golongan darah ibu – bayi tidak serasi ( Rh, ABO )
    • Haematoma, memar
    • Spherositosis kongenital.
    • Enzim G6 PD rendah

    B. Gangguan transport :
    • Albumin rendah ( prematur, kurang gizi )
    • Ikatan kompetitif dengan albumin ( obat-obat atau bahan lain )
    • Kemampuan mengikat albumin rendah ( asidosis ).
    C. Gangguan konjugasi :
    • Enzym glukoronil transferase belum adekuat ( prematur, kongenital ).
    D. Gangguan ekskresi :
    • Obstruksi saluran empedu ( cholestasis )
    • Obstruksi usus ( sirkulasi enterohepatik meningkat ).

    PENATALAKSANAAN :
    Prinsip :
    A. Menghilangkan penyebab
    B. Pencegahan peningkatan kadar bilirubin.
    Cara :
    1. Meningkatkan kerja enzym : Phenobarbital 1 – 2 mg/ kg BB/ dosis 2 – 3 kali/ hari ( 3 hari ).
    2. Merubah bilirubin tidak larut dalam air menjadi larut :
    Fototerapi--> isomunisasi --> diharapkan ekskresi bertambah.
    3. Bilirubin darah dibuang : tranfusi tukar.

    Pedoman Pemilihan terapi :


    EFEK SAMPING PENGOBATAN :
    1. Phenobarbital :
    • Banyak tidur.
    2. Foto terapi :
    a. Segera :
    • Suhu tubuh hipotermia/ hipertermia
    • Kulit terbakar
    • Insensible water loss meningkat
    • Evakuasi usus lebih cepat, diare
    • Gelisah.
    b. Lama :
    • Perubahan DNA.

    3. Tranfusi tukar :
    • Infeksi
    • Jantung
    • Sirkulasi hipervolemia/ hipovolemia
    • Elektrolit hipocalcemia
    • Metabolik.

    MONITOR :
    • Tanda vital
    • Gejala saraf pusat
    • Hb atau PCV
    • Serum bilirubin
    • Status hidrasi ( turgor kulit )
    • Efek samping pengobatan.

    KOMPLIKASI :
    A. SSP ( encephalopathy / Kern Ikterus )
    Derajat I :
    • Lethargi
    • Malas minum
    • Hipotoni
    Derajat II :
    • Respon meningkat ( iritable )
    • Tonus meningkat
    • Kejang
    • Hipertermia
    • Bayi bisa meninggal
    Derajat III :
    • Bila tertolong bayi tampak normal/ asymptomatik
    Derajat IV :
    • Opistotonus
    • Jangka lama terjadi gejala berupa gangguan motorik, pendengaran ( cerebral palsy ).
    B. Saluran cerna :
    • Diare akibat hiperosmolar dalam usus.

    PROGNOSA :
    • Tanpa komplikasi, prognosa baik.
    • Dengan komplikasi, co ad vitam cukup baik, co ad sanationum kurang baik

    Perubahan Selama Kehamilan

    Kehamilan dapat terjadi ketika sel sperma pria bertemu dengan sel telur wanita. Suatu kehamilan normal biasanya berlangsung 280 hari. Selama itu terjadi perubahan-perubahan baik pada ibu maupun pada janin (Pusdiknakes, 2001).
    Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut : Plasma 30%, sel darah 18% dan Hemoglobin 19% (Prawirohardjo, 1999).

    Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Secara fisiologis pengenceran darah ini untuk meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan. Apabila Viskositas darah rendah, resistensi perifer berkurang pula sehingga tekanan darah tidak naik, pada perdarahan waktu persalinan banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental (Prawirohardjo, 1999).

    Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan merupakan hasil interaksi antara potensi genetik dan lingkungan intrauterin. Termasuk faktor genetik antara lain adalah faktor bawaan yang normal dan patologik, suku bangsa. Selain itu ibu hamil dengan kondisi kesehatan yang baik dengan sistem reproduksi yang normal tidak sering menderita sakit dan tidak ada gangguan gizi pada masa prahamil maupun pada saat hamil akan menghasilkan bayi yang lebih besar dan lebih sehat daripada ibu yang kondisinya tidak seperti itu ( Soetjiningsih, 1998).

    9D5PPRCQX67Q

    Keracunan Hipnotika-Sedativa dan Analgetika

    PROSEDUR PENATALAKSANAAN KERACUNAN BAHAN HIPNOTIKA-SEDATIVA DAN ANALGETIKA

    BATASAN
    1. Sifat-sifat
    Banyak obat-obat yang menimbulkan sedasi dan hipnosis dengan cara menekan susunan saraf pusat ( SSP ). Overdosis obat-obat ini menimbulkan koma dengan kegagalan pernapasan. Dosis fatal sebagian besar obat depresan nonbarbiturat berkisar antara 100 – 500 mg/kg BB ( kecuali chloral hydrat ). Untuk chloral hydrat dosis fatal sekitar 30 mg/kg BB, sedang barbiturat berkisar 1 – 2 gram.

    2. Macam-macam
    • Golongan barbiturat : fenobarbital ( Luminal ), amobarbital ( Amytal ), pentotal ( Nembutal ), tiopental ( Pentotal ).
    • Nonbarbiturat : meprobamat, methaqualon, gluthetimide ( Doriden ).
    • Antiepilepsi : phenitoin ( Dilantin ), carbamazepin ( Tegretol ).
    • Antihistamin : antazoline, diphenhydramine ( Benadryl ), dll.
    • Phenothiazine dan derivat-derivatnya : chlorpromazine ( Largacti ), chlordiazepoxide ( Librium ), diazepam ( Valium, Stezolid ), lorazepam (Ativan), haloperidol ( Haldol ),dll.
    • Bromidum : NaBr, KBr, NH4Br.
    • Analgetika : asam salisilat ( Aspirin ), acetaminophen ( Paracetamol ), metampiron ( Antalgin, Novalgin ).
    • Analgetika narkotika : morphine, codeine, heroin, meperidine ( Pethidine ), opium ( Papaver somniferum ), loperamide ( Imodium ), dll.

    PATOGENESA
    Obat-obat golongan sedativa-hipnotika dan analgetika ini menyebabkan depresi progresif dari susunan saraf pusat ( SSP ), menurun dari korteks ke arah medulla. Pusat respirasi akan ditekan, dan pergerakan napas akan mengurang, menimbulkan anoksia jaringan.

    DIAGNOSA
    Gambaran klinis
    Keluhan pertama adalah rasa ngantuk, bingung dan menurunnya keseimbangan. Dengan cepat kemudian diikuti dengan koma, dan pernapasan yang pelan dan dangkal.Selanjutnya otot-otot melemah atau “flaccid”, hipotensi, sianosis, hipotermi atau hipertermi, dan refleks-refleks menghilang.
    Lama koma sangat bervariasi, tergantung dosis dan jenis obat, dapat 1 – 7 hari.
    Kematian biasanya akibat komplikasi pneumoni aspirasi, edema paru atau hipotensi yang refrakter.

    Pemeriksaan laboratorik
    Pada koma yang lama dapat timbul hipokalemia. PCO2 darah dapat meningkat. Khusus barbiturat, tinggi kadar dalam darah berhubungan erat dengan lama koma serta jenis dan dosis barbiturat yang dipakai. Untuk fenobarbital dan barbital, kadar 5 – 8 mg/100 ml dalam darah, menunjukkan keracunan yang berat.
    PENGOBATAN
    1. Resusitasi
    Pertahankan jalan napas yang baik, bila perlu dengan “oropharyngeal airway” atau intubasi endotrakheal. Hisap lendir dalam saluran napas. Bila timbul depresi pernapasan, berikan O2 lewat kateter hidung ( 4 – 6 liter/menit ) atau masker oksigen ( 2 – 4 liter/menit ). Bila perlu gunakan respirator.
    2. Eliminasi
    Eliminasi sangat tergantung pada tingkat kesadaran penderita, jenis dan dosis obat yang dipakai.
    Pada penderita sadar : cukup emesis, pemberian norit dan laksans MgSO4. Kalau pasti dosis rendah, langsung dipulangkan. Bila ragu-ragu observasi selama beberapa jam.
    Koma derajat ringan – sedang : kumbah lambung dengan pipa nasogastrik tanpa endotrakheal, diikuti dengan diuresis paksa selama 12 jam bila ragu-ragu tentang penyebab keracunan.
    Caranya : mulai dengan 1 ampul kalsium glukonas intravena, selanjutnya infus Dekstrosa 5 – 10% ditambah 10 ml KCl 15% ( = 1,50 mg KCl ) untuk setiap 500 ml Dekstrose, kecepatan 3 liter dalam 12 jam; setiap 6 jam diberi 40 mg furosemide intravena. Diuresis paksa dapat diulang setiap 12 jam bila perlu, sampai penderita sadar. Untuk keracunan salisilat dan fenobarbital dapat ditambahkan 10 mEq Na-bikarbonat untuk setiap 500 ml Dekstrosa ( diuresis paksa alkali ).
    Koma derajat berat : KL dengan pipa endotrakheal berbalon, untuk mencegah aspirasi ke dalam paru. Selanjutnya diuresis paksa netral/alkali, atau dialisis ( peritoneal / hemodialisis ) sampai penderita sadar.
    3. Antidotum
    Tidak ada antidotum yang spesifik. Obat-obat analeptik semuanya merupakan kontraindikasi. Selain tidak efektif, obat-obat ini dapat menimbulkan bermacam-macam komplikasi ( aritmia jantung, konvulsi, gangguan faal ginjal, dll )

    PROGNOSA
    Tergantung keadaan klinis dan derajat gangguan kesadaran penderita.
    • Ringan   : mudah dibangunkan, tidak perlu pengobatan khusus.
    • Sedang  : sulit dibangunkan, pernapasan normal dan teratur, tidak ada sianosis maupun edema paru, tekanan darah normal. Dapat pulih asal dalam 24 – 48 jam dengan perawatan yang baik dan pemberian cairan yang adekwat.
    • Berat   : Koma dengan pernapasan yang pelan, dangkal, tidak teratur, sianosis, semua refleks menghilang, hipotensi, hipotermi, pupil midriasis, dan tidak ada reaksi terhadap rangsangan nyeri.
    Dalam keadaan demikian, angka kematian masih tetap di bawah 5%.
    Penderita dapat pulih asal dalam 3 – 5 hari
    Tag : Keracuan, intoksikasi, penatalaksanaan intoksikasi , Overdosis obat, Antidotum sedativ hipnitik, anelgetik

    Penatalaksanaan Hordeolum

    PENGERTIAN
    Hordeolum adalah suatu peradangan supuratif kelenjar Zeis, kelenjar Moll (hordeolum eksterternum) atau kelenjar Meibom (Hordeolum internum).

     
    PENYEBAB
    Infeksi:
    •  stafilokokus
    • -moraxella

    PATOFISIOLOGI
    • Pembentukan nanah terdapat dalam lumen kelenjar
    • Bisa mengenai kelenjar Meibom, Zeis, dan Moll
    • Apabila mengenai kelenjar Meibom, pembengkakan agak besar, disebut hordeolum internum.
    • Penonjolan pada hordeolam ini mengarah kekulit kelopak mata atau kearah konjungtiva. Kalau yang terkena kelenjar Zeis dan Moll; penonjolan kearah kulit palpebra, disebut hordeolum ekstenum.

    GEJALA KLINIS
    • Gejala subyektif dirasakan mengganjal pada kelopak mata rasa sakit yang bertambah kalau menunduk, dan nyeri bila ditekan.
    • Gejala obyektif tampak suatu benjolan pada kelopak mata atas/bawah yang berwarna merah dan sakit bila ditekan didekat pangkal bulu mata.
    • Secara umum gambaran ini sesuai dengan suatu abses kecil.

    PENGOBATAN
    • Kompres hangat selama 10 - 15 menit, 3 - 4 kali sehari.
    • Antibiotika topikal (neomycin, polirnyxin B, gentamycin) selama 7 -10 hari, bila dipandang perlu dapat ditambahkan antibiotika sistemik, misal Ampisillin 4 x 250 mg per-ora/hari.
    • Bila tidak terjadi resorbsi dengan pengobatan konservatif dianjurkan insisi.
    • Perbaikan higiene dapat mencegah terjadinya infeksi kembali.

    CARA INSISI
    • Diberikan anestesi setempat dengan tetes mata Pantokain.
    • Kalau perlu diberikan anestesi umum, misal pada anak-anak atau orang-orang yang sangat takut sebelum diberi anestesi umum.
    • Untuk lokal anestesi bisa dipakai prokain 2% dilakukan secara infiltratif dan tetes mata Pantocain 2%.
    • Pada hordeolum internum insisi dilakukan pada konjungtiva, kearah muka dan tegak lurus terhadapnya (vertikal) untuk menghindari banyaknya kelenjar-kelenjar yang terkena.
    • Pada bordeolum ekstrnum arah insisi horisontal sesuai dengan lipatan kulit.

    PENYULIT
    • Suatu hordeolum yang besar dapat menimbulkan abses palpebra dan selulitis palpebra.
    Tag : Hordeolum, Timbil, Pengobatan hordeolum, Patofisiologi Hordeolum

    Jenis-jenis ASI sesuai perkembangan bayi

    a). ASI kolostrum / susu jolong (Roesli, 2005).
    1. Merupakan cairan pertama yang keluar dari kelenjar payudara dan keluar pada hari pertama sampai hari ke 4-7.
    2. Komposisinya selalu berubah dari hari ke hari.
    3. Merupakan cairan kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibanding susu matur.
    4. Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang.
    5. Lebih banyak mengandung protein, sedangkan kadar karbohidrat dan lemaknya lebih rendah dibandingkan ASI matur.
    6. Mengandung zat anti infeksi 10-17 kali lebih banyak dari ASI matur.
    7. Total energi lebih rendah jika dibandingkan ASI matur.
    8. Volume berkisar 150-300 ml / 24 jam.

    b). ASI Transisi/Peralihan.
    1. Adalah ASI yang diproduksi pada hari ke 4 sampai 7 sampai hari ke 10 sampai 14.
    2.  Kadar protein berkurang sedangkan kadar karbohidrat dan lemak meningkat.
    3. Volume semakin meningkat.

    c). ASI Matur
    1. Merupakan ASI yang diproduksi sejak hari ke 14 dan seterusnya.
    2. Komposisi relatif konstans.
    3. ASI merupakan makanan satu-satunya yang paling baik bagi bayi sampai usia 6 bulan.
    4. Komposisi ASI di banding dengan Susu Formula (komposisi kolostrum, ASI transisi, ASI matur dan susu sapi mempunyai kadar protein, 4,1 g %, 1,6 g %, 1,2 g %, 3,3 gr%. Lemak 2,9 g %, 3,5gr%, 3,7gr%, 4,3gr%. Kalori 57 kcal/100ml, 63 kcal/100ml, 65 kcal/100ml, 65 kcal/100 ml. Laktosa 5,5 gr%, 6,4 gr%, 7gr%, 1,8gr% (Depkes RI,1997))












    Konsep Komunikasi

    1. Pengertian
    Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin comunication yang berarti sama dalam hal ini berarti sama makna. Komunikasi juga diartikan sebagai upaya seseorang untuk merubah pikiran, perasaan atau perilaku orang lain (Effendi, 1992).
    Komunikasi juga merupakan elemen dasar dari hubungan interpersonal untuk membuat, memelihara, dan menampilkan kontak dengan orang lain (Mary Ann, 1998).

    2. Komponen komunikasi
    Komunikator: penyampai informasi atau sumber informasi, Komunikan: penerima informasi atau memberi respon terhadap stimulus yang disampaikan oleh komunikator, Pesan: gagasan atau pendapat, fakta, informasi atau stimulus yang disampaikan, Media: saluran yang dipakai untuk menyampaikan pesan, Encoding : perumusan pesan oleh komunikator sebelum disampaikan kepada komunikan, Decoding : penafsiran pesan oleh komunikan pada saat menerima pesan.


    3. Berbagai Macam Komunikasi
    Ada 3 (tiga) macam komunikasi antara lain (Kariyoso, 1994) :
    1. Komunikasi searah
    Komunikator mengirim pesannya melalui saluran atau media dan diterima oleh komunikan. Sedangkan komunikan tersebut tidak memberikan umpan balik (feedback).

    2. Komunikasi dua arah
    Komunikator mengirim pesan (berita) diterima oleh komunikan, setelah disimpulkan kemudian komunikan mengirimkan umpan balik kepada sumber berita atau komunikator.

    3. Komunikasi berantai
    Komunikan menerima pesan atau berita dari komunikator kemudian disalurkan kepada komunikan kedua, dari komunikan kedua disampaikan kepada komunikan ketiga dan seterusnya.

    4. Tingkat hubungan komunikasi
    Komunikasi intrapersonal, terjadi dalam diri individu sendiri. Komunikasi ini akan membantu agar seseorang atau individu tetap sadar akan kejadian disekitarnya.
    Melamun maka anda sedang melakukan komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal, interaksi antara dua orang atau kelompok kecil. Komunikasi ini merupakan inti dari praktek keperawatan karena dapat terjadi antara perawat dan klien serta keluarga, perawat dengan perawat, dan perawat dengan tim kesehatan lain. Komunikasi massa, interaksi yang terjadi dalam kelompok besar.
    Ceramah yang diberikan pada mahasiswa, kampanye, merupakan contoh komunikasi massa.










    Penatalaksanaan Placenta Previa

    PLACENTA PREVIA
    A. PENGERTIAN

    Placenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim yaitu di atas dan dekat tulang cerviks dalam dan menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Angka kejadian plasenta previa adalah 0,4 – 0,6 % dari keseluruhan persalinan.

    B.KLASIFIKASI
    Placenta previa dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu :
    1. Marginal placenta previa
      Plasenta tertanam pada satu tepi segmen rahim bawah dekat dengan tulang.
    2. Incomplete / Parsial placenta previa
      Menyiratkan penutupan tak sempurna
    3. Total / Complete placenta previa
      Seluruhnya tulang dalam tertutup oleh placenta, saat cervik sepenuhnya berdilatasi
    4. Implantasi rendah / low-lying implantasi
      Digunakan saat placenta diposisikan pada segmen bawah rahim yang lebih rendah tapi jauh dari tulang

    C. ETIOLOGI
    Penyebab pasti dari placenta previa belum diketahui sampai saat ini. Tetapi berkurangnya vaskularisasi pada segmen bawah rahim karena bekas luka operasi uterus, kehamilan molar, atau tumor yang menyebabkan implantasi placenta jadi lebih rendah merupakan sebuah teori tentang penyebab palcenta previa yang masuk akal.
    Selain itu, kehamilan multiple / lebih dari satu yang memerlukan permukaan yang lebih besar untuk implantasi placenta mungkin juga menjadi salah satu penyebab terjadinya placenta previa. Dan juga pembuluh darah yang sebelumnya mengalami perubahan yang mungkin mengurangi suplai darah pada daerah itu, faktor predisposisi itu untuk implantasi rendah pada kehamilan berikutnya.

    D. PATHOLOGY
    • Lokasi implantasi dan ukuran placenta saling terkait. Secara rinci, karena sirkulasi pada segmen bawah sdikit lebih baik daripada fundus, placenta previa mungkin butuh untuk menutupi area yang lebih besar untuk efisiensi yang adekuat. Permukaan placenta previa mungkin lebih besar setidak-tidaknya 30% lebih besar daripada placenta yang terimplantasi di fundus.
    • Segmen bagian bawah relatif tanpa kontraksi dan perdarahan pantas dipertimbangkan pada pembukaan sinus.
    • Infeksi ascending dari vagina dapat menyebabkan placentitis, terutama di daerah pajana atau di atas tulang.
    • Placenta previa dapat terdorong miring, melintang, presentasi dan mencegah perikatan pada keadaan fetal.

    E. MANIFESTASI KLINIK
    • Rasa tak sakit, perdarahan uteri, terutama pada trimester ketiga.
    • Jarang terjadi pada episode pertama kejadian yang mengancam kehidupan atau menyebabkan syok hipovolemik.
    • Kira-kira 7% dari placenta previa tanpa gejala dan merupakan suatu temuan yang kebetulan pada scan ultrasonik.
    • Beberapa adalah jelmaan untuk pertama kali, saat uteri bawah merentang dan tipis, saat sobek dan perdarahan terjadi di lokasi implantasi bawah.
    • Placenta previa mungkin tidak menyebabkan perdarahan hingga kelahiran mulai atau hinga terjadi dilatasi lengkap. Perdarahan awal terjadi dan berlebih-lebih pada total previa. Perdarahan yang merah terang mungkin terjadi secara intermitten, saat pancaran, atau lebih jarang, mungkin jugaberlanjut. Ini mungkin berawal saat wanita sedang istirahat atau di tengah-tengah aktifitas. Kebetulan kejadian ini tidak pernah terjadi kecuali jika dilakukan pengkajian vaginal atau rektal memulai perdarahan dengan kasar sebelum atau selama awal kehamilan.
    • Sikap yang tak terpengaruh oleh placenta previa adalah rasa sakit. Bagaimanapun jika perdarahan yang pertama bersamaan dengan serangan kelahiran, wanita mungkin mengalami rasa tak nyaman karena kontraksi uterus.
    • Pada pengkajian perut, jika fetus terletak longitudinal, ketinggian fundus biasanya lebih besar dari yang diharapkan untuk umur kehamilannya karena placenta previa menghalangi turunnya bagian-bagian janin.
    • Manuver leopod mungkin menampakkan fetus pada posisi miring atau melintang karena abnormalitas lokasi implantasi placenta.
    • Seperti kaidah, fetal distress atau kemayian janin terjadi hanya jika bagian penting placenta previa terlepas dari desidua basilis atau jika ibu menderita syok hipovolemik.

    F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    1. USG (Ultrasonographi)
      Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah placenta melapisi cervik tidak biasa diungkapkan
    2. Sinar X
      Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh janin.
    3. Pemeriksaan laboratorium
      Hemoglobin dan hematokrit menurun. Faktor pembekuan pada umumnya di dalam batas normal.
    4. Pengkajian vaginal
      Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34 minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.
    5. Isotop Scanning
      Atau lokasi penempatan placenta.
    6. Amniocentesis
      Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi direkomendasikan jika paru-paru fetal sudah mature.

    G. PENATALAKSANAAN / TERAPI SPESIFIK
    1. Terapi ekspektatif
    • Tujuan terapi ekspektatif adalah supaya janin tidak terlahir prematur, pasien dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melaui kanalis servisis. Upaya diagnosis dilakukan secara non invasif. Pemantauan klinis dilaksanakan secara ketat dan baik.
    Syarat pemberian terapi ekspektatif :
    a. Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.
    b. Belum ada tanda-tanda in partu.
    c. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal)
    d. Janin masih hidup.
    • Rawat inap, tirah baring, dan berikan antibiotik profilaksis.
    • Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi placenta, usia kehamilan, profil biofisik, letak, dan presentasi janin.
    • Berikan tokolitik bila ada kontriksi :
    1. MgSO4 4 gr IV dosis awal dilanjutkan 4 gr tiap 6 jam
    2. Nifedipin 3 x 20 mg/hari
    3. Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru janin
    • Uji pematangan paru janin dengan Tes Kocok (Bubble Test) dari test amniosentesis.
    • Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu placenta masih berada di sekitar ostinum uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas sehingga perlu dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat darurat.
    • Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 mingu masih lama, pasien dapat dipulangkan untuk rawat jalan (kecuali apabila rumah pasien di luar kota dan jarak untuk mencapai RS lebih dari 2 jam) dengan pesan segera kembali ke RS apabila terjadi perdarahan ulang.
    2. Terapi aktif (tindakan segera)
    • Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin.
    • Untuk diagnosis placenta previa dan menentukan cara menyelesaikan persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan PDOM jika :
    - Infus / tranfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap
    - Kehamilan ≥ 37 minggu (BB ≥ 2500 gram) dan in partu
    - Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor (misal : anensefali)
    - Perdarahan dengan bagian terbawah jsnin telah jauh melewati PAP (2/5 atau 3/5 pada palpasi luar)

    Cara menyelesaikan persalinan dengan placenta previa adalah :
    1. Seksio Cesaria (SC)
    • Prinsip utama dalam melakukan SC adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya harapan hidup tindakan ini tetap dilakukan.
    • Tujuan SC antara lain :
    1. Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan menghentikan perdarahan
    2. Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada cervik uteri, jika janin dilahirkan pervaginam
    • Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi sehingga cervik uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan mudah robek. Selain itu, bekas tempat implantasi placenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi dan susunan serabut otot dengan korpus uteri.
    • Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu
    • Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan perdarahan, infeksi, dan keseimbangan cairan dan elektrolit.
    2. Melahirkan pervaginam
    Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada placenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
    • Amniotomi dan akselerasi
    Umumnya dilakukan pada placenta previa lateralis / marginalis dengan pembukaan > 3cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, placent akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah akselerasi dengan infus oksitosin.
    • Versi Braxton Hicks
    Tujuan melakukan versi Braxton Hicks adalah mengadakan tamponade placenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup.
    • Traksi dengan Cunam Willet
    Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian diberi beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan placentadan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.

    Asuhan Keperawatan Hernia

    ASKEP HERNIA
    Tinjauan Medis
    A. Definisi
    • Hernia adalah suatu benjolan/penonjolan isi perut dari rongga normal melalui lubang kongenital atau didapat(1).
    • Hernia adalah penonjolan usus melalui lubang abdomen atau lemahnya area dinding abdomen (3).
    • Hernia Is the abnormal protrusion of an organ, tissue, of part of an organ through the structure that normally cotains it (1).
    Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hernia adalah penonjolan dari isi perut dalam rongga normal melalui lubang yang kongenital ataupun didapat.

    B. Etiologi
    Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, atau akibat tekanan rongga perut yang meninggi (2).




    C. Klasifikasi
    1. Menurut/tofografinya : hernia inguinalis, hernia umbilikalis, hernia femoralis dan sebagainya.
    2. Urut isinya : hernia usus halus, hernia omentum, dan sebagainya.
    3. Menurut terlibat/tidaknya : hernia eksterna (hernia ingunalis, hernia serofalis dan sebagainya). Hernia inferna tidak terlihat dari luar (hernia diafragmatika, hernia foramen winslowi, hernia obturatoria).
    4. Causanya : hernia congenital, hernia traumatika, hernia visional dan sebagainya.
    5. Keadaannya : hernia responbilis, hernia irreponibilis, hernia inkarserata, hernia strangulata.
    6. Nama penemunya :Hernia Petit (di daerah lumbosakral) ;Hernia Spigelli (terjadi pada lenea semi sirkularis) di atas penyilangan rasa epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominis bagian lateral;Hernia Richter : yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit.
    7. Beberapa hernia lainnya :
    Hernia Pantrolan adalah hernia inguinalis dan hernia femoralis yang terjadi pada satu sisi dan dibatasi oleh rasa epigastrika inferior;
    Hernia Skrotalis
    adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke skrotum secara lengkap;
    Hernia Littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum Meckeli.
    D. Tanda dan Gejala
    Umumnya penderita menyatakan turun berok, burut atau kelingsir atau menyatakan adanya benjolan di selakanganya/kemaluan.benjolan itu bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi.
    E. Pathways
    Untuk Melihat Pathway Keperawatan klik di Pathway Hernia

    F. Pemeriksaan Diagnostik
    Pemeriksaan diameter anulus inguinalis
    G. Penatalaksanaan (2)
    • Pada hernia inguinalis lateralis reponibilis maka dilakukan tindakan bedah efektif karena ditakutkan terjadi komplikasi.
    • Pada yang ireponibilis, maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali. Pasien istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus. Dilakukan tekanan yang kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir. Baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan usaha ini berulang-ulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah efektif di kemudian hari atau menjadi inkarserasi.
    • Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat.
    Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan herniorafi (menjahit kantong hernia). Pada bedah efektif manalis dibuka, isi hernia dimasukkan,kantong diikat dan dilakukan “bassin plasty” untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
    Pada bedah darurat, maka prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia langsung dicari dan dipotong. Usus dilihat apakah vital/tidak. Bila tidak dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomois “end to end”.

    H. Asuhan Keperawatan / Askep Hernia
    Selengkapnya anda dapat download di SINI atau Link Di bawah .. Gratis..

    I. DAFTAR PUSTAKA
    1. Core Principle and Practice of Medical Surgical Nursing. Ledmann’s.
    2. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi II. Medica Aesculaplus FK UI. 1998.
    3. Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. Edisi II. EGC. 2001.
    4. Keperawatan Medikal Bedah. Charlene J. Reeves, Bayle Roux, Robin Lockhart. Penerjemah Joko Setyono. Penerbit Salemba Media. Edisi I. 2002.
    5. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf Pengajar UI. FK UI.


    Untuk Selengkapnya Download Askep Hernia Gratis dalam format Ms. Word

    Klik DOWLOAD

    Asuhan Keperawatan Hipertensi

    ASKEP HIPERTENSI
    I. PENGERTIAN
    Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001)
    Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.

    II. KLASIFIKASI
    Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo, 1999 )
    1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg
    2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

    Secara klinis derajat hipertensi dapat dikelompokkan sesuai dengan rekomendasi dari “The Sixth Report of The Join National Committee, Prevention, Detection and Treatment of High Blood Pressure “ (JNC – VI, 1997) sebagai berikut :




    No



    Kategori

    Sistolik(mmHg)

    Diastolik(mmHg)

    1.


    Optimal

    120

    80

    2.


    Normal

    120 – 129

    80 – 84

    3.


    High Normal

    130 – 139

    85 – 89

    4.


    Hipertensi





    Grade 1 (ringan)

    140 – 159

    90 – 99



    Grade 2 (sedang)

    160 – 179

    100 – 109



    Grade 3 (berat)

    180 – 209

    100 – 119



    Grade 4 (sangat berat)

    210

    120


    Kalsifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :
    a. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya
    b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain.

    III. ETIOLOGI
    Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan – perubahan pada :
    a. Elastisitas dinding aorta menurun
    b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
    c. Kemampuan jantung memompa darah menurun
    1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
    d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
    Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
    e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

    Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
    a. Faktor keturunan
    Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi
    b. Ciri perseorangan
    Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
    • Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
    • Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
    • Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
    c. Kebiasaan hidup
    Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
    • Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )
    • Kegemukan atau makan berlebihan
    • Stress
    • Merokok
    • Minum alkohol
    • Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
    Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah :
    a. Ginjal
    • Glomerulonefritis
    • Pielonefritis
    • Nekrosis tubular akut
    • Tumor
    b. Vascular
    • Aterosklerosis
    • Hiperplasia
    • Trombosis
    • Aneurisma
    • Emboli kolestrol
    • Vaskulitis
    c. Kelainan endokrin
    • DM
    • Hipertiroidisme
    • Hipotiroidisme
    d. Saraf
    • Stroke
    • Ensepalitis
    • SGB
    e. Obat – obatan
    • Kontrasepsi oral
    • Kortikosteroid

    IV. PATOFISIOLOGI / PATHWAY
    Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
    Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
    Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
    Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

    PATHWAY
    Untuk Pathway Hipertensi Klik Pathway Hipertensi
    Pahway Hipertensi Klik DOWLOAD

    V. TANDA DAN GEJALA
    Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
    a. Tidak ada gejala
    Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
    b. Gejala yang lazim
    Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

    Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :
    a. Mengeluh sakit kepala, pusing
    b. Lemas, kelelahan
    c. Sesak nafas
    d. Gelisah
    e. Mual
    f. Muntah
    g. Epistaksis
    h. Kesadaran menurun
    VII. PENATALAKSANAAN
    Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.

    Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
    a. Terapi tanpa Obat
    Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi :
    1. Diet
    Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
    • Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
    • Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
    • Penurunan berat badan
    • Penurunan asupan etanol
    • Menghentikan merokok
    2. Latihan Fisik
    Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu :
    • Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain
    • Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan.
    • Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan
    • Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu
    3. Edukasi Psikologis
    Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
    • Tehnik Biofeedback --> Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
    • Tehnik relaksasi --> Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
    4. Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
    Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

    b. Terapi dengan Obat
    Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.
    Pengobatannya meliputi :
    • Step 1
    Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor

    • Step 2
    Alternatif yang bisa diberikan :
    • Dosis obat pertama dinaikkan
    • Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
    • Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
    • Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh
    • Obat ke-2 diganti
    • Ditambah obat ke-3 jenis lain
    • Step 4 : Alternatif pemberian obatnya
    • Ditambah obat ke-3 dan ke-4
    • Re-evaluasi dan konsultasi
    c. Follow Up untuk mempertahankan terapi
    Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.
    Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut :
    1. Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya
    2. Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya
    3. Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh, namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas
    4. Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter
    5. Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu
    6. Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita
    7. Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi
    8. Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah
    9. Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari
    10. Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi
    11. Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal
    12. Usahakan biaya terapi seminimal mungkin
    13. Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih sering
    Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang ditentukan.
    Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.

    Untuk Selengkapnya Download Askep Gratis dalam format Ms. Word

    Klik DOWNLOAD